Sudah cukup lama aku mengidamkan membaca buku ini. Karena banyak pertimbangan buku thriller yang perlu kubaca--dan ya aku tidak sekaya itu membeli semua buku sekaligus, terpaksa aku menunda membaca buku ini cukup lama. Sempat ingin meminjam bukunya di iPusnas tapi berkali-kali kucek ke aplikasinya, stok buku itu selalu habis terpinjam. Aku sudah menunggu buku itu selama berbulan-bulan! Akhirnya aku menyerah dan lebih memilih membelinya di Gramedia saja.
The Good Son - Jeong You Jeong
Sinopsis
Yoo Jin terbangun karena bau darah dan menemukan dirinya berbaring di ranjangnya sendiri dalam keadaan berlumuran darah. Tetapi itu bukan darahnya. Lalu darah siapa? Jawaban untuk pertanyaan itu baru diketahuinya setelah ia menemukan ibunya tergeletak tak bernyawa dengan leher tergorok di tengah genangan darah di kaki tangga apartemen dupleks mereka. Sebagai penderita epilepsi, ingatan Yoo Jin sering bermasalah dan ia tidak bisa mengingat apapun yang terjadi kemarin malam. Hanya suara ibunya yang selalu terngiang-ngiang di telinga. Suara ibunya yang memanggil namanya. Apakah sang ibu memanggilnya untuk meminta tolong? Atau untuk memohon agar Yoo Jin tidak membunuhnya? Yoo Jin pun berusaha mencari tahu apa yang terjadi, menggali ingatannya, dan menguak rahasia lama tentang dirinya sendiri dan keluarganya. Sementara itu, di dermaga tidak jauh dari sana, ditemukan juga mayat seorang wanita muda dengan luka menganga di leher.
Review
Dari sinopsis yang tertulis di sampul belakangnya itu saja sudah membuatku sangat penasaran dengan ceritanya. Dari sinopsis itu saja pun udah jelas ya siapa pembunuhnya. Tadinya aku berharap ada plot twist yang mencengangkan, misalnya si Yujin dijebak oleh pembunuhnya atau gimana. Tapi tidak. Novel ini lumayan 'straight forward' dengan alur cerita yang maju mundur. Kalau tidak dibaca baik-baik kita tidak bakal tahu apakah ini cerita sekarang, atau MCnya lagi membahas masa lalunya. Penggambaran isi otak dan perasaan dari Yujin merupakan inti cerita dari novel ini. Kita bakal diajak untuk menyelami pemikiran Yujin yang tersiksa dengan kekangan ibunya dan pemikiran ketika menyadari dirinya adalah psikopat,
Di awal cerita Yujin adalah anak lemah yang katanya menderita "epilepsi". Atas perintah dari kakak ibunya yang seorang dokter psikiater, Yujin diharuskan meminum obat 'epilepsi' ini. Jika tidak diminum, dia akan mengalami kejang-kejang lalu pingsan. Diminum pun obat itu hanya membuat Yujin jadi merasa hampa. Padahal awalnya Yujin adalah anak yang sehat bugar, apalagi dia atlet renang yang berprestasi. Hal ini diperparah dengan ibu Yujin yang sangat ketat dengan kehidupan Yujin. Bahkan sampai menyuruh Yujin untuk menyerah jadi atlet renang yang merupakan tujuan hidup Yujin. Dan mirisnya semua itu dilakukan karena memang benar-benar memikirkan anaknya, Yujin. Satu-satunya plot twist yang kusukai di novel ini.
Meskipun plot twistnya B aja, jujurly kejadian-kejadian yang terjadi dalam novel ini akan membuat kita jadi makin penasaran. Apalagi di puncak konfliknya, susah rasanya untuk berhenti membaca. Sebagai seorang--yang baru sadar--psikopat, Yujin tidak akan segan-segan melenyapkan siapapun yang menghalanginya. Ditambah kecerdasan Yujin yang mampu membuatnya lolos dari tindak kejahatannya. Yah psikopat + cerdas adalah kombinasi terburuk seorang kriminal. Endingnya pun sangat memuaskanku.
+ Kejadian-kejadian yang terjadi dalam novel membuatku terus penasaran.
+ Penggambaran gejolak batin hingga Yujin menjadi seorang psikopat yang sangat detail.
- Tidak ada plot twist yang Waw banget. Jadi jangan terlalu berharap.
- Narasi yang banyak banget, apalagi di awal novel bakal bikin kita bosan.
Helloo!
Tepat hari ini aku akan memposting konten blog pertamaku. Senang akhirnya bisa produktif, meski cuma untuk hal kecil.
Di konten pertamaku ini, aku akan menceritakan pengalamanku saat mendaki gunung Andong. FYI, ini pertama kalinya aku mendaki gunung, jadi doi menyarankan untuk naik gunung ini. Katanya gunung ini tidak terlalu tinggi dan ada jalur landainya, jadi cocok untuk pendaki yang bener-bener pemula sepertiku. Meski tetap saja bagi aku yang jarang berolahraga masih merasa capek banget.
Gunung Andong terletak di Magelang, Jawa Tengah. Berdekatan dengan Gunung Merbabu. Lumayan memakan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dari Maguwo, Jogja.
Aku dan doi berencana mendaki tanpa berkemah. Kalau istilah dari doi katanya pendaki tik-tok gitulah. Kenapa tidak kemah? Karena besok jadwal UAS ku berlangsung hehe. Ah iya, doi sendiri yang mengusulkan mendaki ke gunung Andong ini. Doi pengen menghiburku yang kemarin menangis karena homesick. Dia ga kepengen aku murung terus hehe :D Nah--balik ke topik---yang perlu kami siapkan hanyalah makanan dan minum. Makanan dan minuman yang kami bawa ada beberapa roti--yang sempat kami beli saat singgah di Indomaret--, oatmeal, susu, dan air.
Kami berangkat sekitar jam setengah 7 pagi. Ini kali ke-2 ku melewati Magelang--sebelumnya untuk berangkat ke Borobudur--. Kali ini rute yang kami lewati memiliki pemandangan alam yang indah. Kami melewati desa, sawah-sawah hijau dan cantik, hutan, dan perkebunan warga. Semakin dekat, hawanya semakin dingin. Ya ampun aku baru teringat. AKU SALAH KOSTUM! Aku hanya mengenakan t-shirt oversize--untung lengan panjang--dan shortpants jeans! Aku sama sekali lupa kalau gunung pasti bakal dingin puncaknya. Alhasil selama di atas motor aku kedinginan haha. Sempat berpikir untuk pulang, tapi kan sayang banget udah mau sampai masa harus pulang. Yaudahlah terima resiko aja.
Rute yang kudatangin adalah rute via dusun Sawit. Sampai di sana aku malu sendiri karena kostumnya yang beda sendiri. Aku tidak berani menatap orang-orang saking malunya haha. Untuk tiket masuknya kami bayar 45 ribu berdua lalu menitipkan motor dan mendaftarkan nama kami. Perjalanan ke arah gapuranya lumayan jauh dari tempat parkiran. Di sekitar kaki gunung lebih banyak dikelilingi oleh perkebunan warga daripada rumah. Kami bertemu dengan beberapa pendaki yang turun gunung, seperti biasa aku tidak berani menatap mereka karena hanya aku doang yang beda sendiri outfitnya.
| Pemandangan dari luar gapura. |
Rasanya deg-degan banget karena ini pertama kalinya aku mendaki gunung beneran--sebelumnya hanya mendaki bukit aja hehe. Baru-baru ini doi sering banget memutar cerita-cerita horror yang terjadi di gunung. Ada ketakutan tersendiri saat memasuki gerbangnya. Agar sedikit kedistract, kebetulan ada penjual cimol gerobak di depan gapura, sekalian isi tenaga hehe. Kami start dari jam 9.38 pagi. Melewati gapura, kami jalan hingga berada di ujung anak tangga yang lumayan panjang tapi tidak terlalu menanjak. Sempat merasa ngeri karena suasananya sepi banget. Padahal kami baru saja memasuki gerbangnya haha. Seperti dugaanku, staminaku masih belum cukup menaiki anak-anak tangga itu tanpa istirahat. Tapi aku terus memaksa kakiku untuk maju, aku tidak mau beristirahat di tangga. Ternyata di ujung tangga terdapat sebuah warung. Kami menyempatkan diri untuk istirahat sebentar. Ibu pemilik warungnya ramah meski kami tidak membeli dagangannya. Setelah melewati warung itu, di atasnya ada percabangan 2 jalur, jalur lama dan jalur baru. Berdasarkan info yang kudapat dari youtube, jalur baru lebih ramah untuk pendaki pemula karena jalurnya yang lebih landai. Ngomong-ngomong doi sudah berpengalaman mendaki tapi dia lebih mengikuti kondisiku hehe. Jadinya kami sepakat mengambil jalur baru. Benar saja, jalurnya lumayan landai dengan bentuk zig-zag. Pohon pinus menjulang tinggi di sisi jalan setapak yang kami lewati. Tidak lupa aku mengambil beberapa foto.
| Jalur baru. |
| kabut! |
| Kabutnya mulai hilang. |
| Turun lewat jalur lama. |
| Hasil petik kebun buah Strawberry. |
- Gunung yang ramah buat pendaki pemula. Ada jalur baru kalau kamu tidak mau terlalu capek mendaki.
- Di puncak gunung ada warung + bisa sewa tenda.
- Di jalur lama ada toilet kok.
- Jalur lama ditanam bebatuan supaya pendaki bisa lebih lancar naik ke puncak.
- Akses ke dusun Sawit mudah
- Tidak ada.














.jpg)




.jpg)





.jpg)
















