Jogja Bay Waterpark Maguwoharjo

Maret 17, 2022



Jam 9.45, doi sudah bersiap-siap di atas motornya. Aku dan doi berencana pergi ke satu-satunya tempat wisata yang jaraknya cuma 3 menit aja dari kosanku.

Jogja Bay Waterpark

Yep lokasi kosanku berdekatan dengan 2 tempat terkenal di Maguwoharjo : Stadion Maguwoharjo dan Jogja Bay Waterpark. Well, lokasi pastinya rahasia. Lokasi Jogja Bay ini terletak pas di sebelah utara Stadion Maguwoharjo. Setelah satu setengah tahun tinggal di wilayah Maguwoharjo, ini baru pertama kalinya kami pergi ke Jogja Bay. Selama ini ya cuma lihat dari luar begitu saja. Kami sudah menduga kalau wisata waterpark gini HTMnya pasti mahal. Untuk kami yang mahasiswa part-time bokek gini jadi malas pengen masuk. Kenapa tiba-tiba pengen ke sana?

Jadi ceritanya malam sebelumnya aku lagi sibuk scroll-scroll tiktok. Lewatlah di fypku orang yang lagi main di Jogja Bay dan vt itu menjelaskan bulan ini lagi ada promo tiket harga 25k. Lumayankan. Langsung aku samperin akun ig official Jogja Bay buat nyari-nyari info. Ternyata selama ini Jogja Bay selalu menyediakan banyak banget promo. Sayang banget ya satu setengah tahunku. Padahal lumayan bisa belajar renang sambil main.

Karena tiketnya terbatas aku langsung mengakses jogjabay.id. Untunglah kami masih kebagian promonya. Jadi total kubayar untuk masuk berdua cuma 50k. Jauh lebih murah dari harga aslinya yang sekitar 200k. Yeey

Keesokan harinya kami berangkat ke Jogja Bay. Meski jarak kosan ke Jogja Bay dekat, kami memilih naik motor. Mager aja sih. Tiga menit doang kami sudah sampai ke tempat parkirnya. Harga karcis cukup bayar 5000 dan kami boleh bayar saat mau ambil motor nanti. 

Sebelum masuk, kami harus cuci tangan dulu lalu scan Peduli Lindungi tepat di depan gerbang Jogja Bay. Sudah lama sekali tidak ke wisata waterpark. Terakhir kali tahun 2014 waktu aku masih tinggal di Makassar. Di sana ada juga satu wisata Waterpark yang dari desain dan wahananya lumayan mirip, Bugis Waterpark. 

Kami langsung ke area loketnya. Karena kami pesan di websitenya, kami hanya perlu menyebutkan angka pesanannya. Tidak sampai semenit kami sudah bisa masuk ke area dalam Jogja Bay. BTW sebelum masuk, tas kami sempat diperiksa apakah kami bawa makanan atau tidak. Kalau ketahuan akan disita!
Ticket area.

Saat kami turun, dibawah terlihat banyak loker-loker yang sudah disediakan. Di tengah-tengahnya ada loket untuk sewa gazebo dan loker. Sewa gazebo seharga 150k, sedangkan sewa  loker 30k. Karena barang bawaan kami sedikit cuma satu tas backpack saja, kami sepakat pesan satu loker. Lumayan kan irit. Isi tas kami emang tidak terlalu banyak. Cuma pakaian-pakaian ganti, hp, dan kantong kresek untuk pakaian basah.


Ziggy Giant Barrel
Wahana yang kulihat pertama kali Ziggy Giant Barrel dimana kami disiram oleh ember raksasa yang berisi air yang banyak. Karena malas menunggu, kami sudah puas disiram sampai 2x sebelum lanjut ke permainan lain. Saking tidak sabarnya pengen menaiki wahana seluncuran. Wahana selanjutnya yang kami naiki adalah wahana yang papan seluncurannya berwarna merah-hitam, Brando Boomeranggo. Katanya ini wahana yang paling ekstrim di sini. Oke markicobbb!

Sebelum naik kita harus punya ban pelampung dulu. Lokasi sewa ban tepat di depan wahana Brando Boomeranggo. Ada dua tipe ban di sini. Ada yang berbayar dan gratis. Bedanya? Yang berbayar, ban itu bisa dipakai di semua jenis wahana. Jika ingin ke wahana ombak pengen pakai ban misalnya, kalian harus menyewa ban ini. Kalau ban gratis, ban itu hanya boleh di satu wahana itu saja dan tidak bisa dibawa ke wahana  lain. Perbedaan bannya bisa terlihat dari coraknya. Ban berbayar punya corak kapal hitam, sedangkan yang gratis coraknya warna-warni. Sebenarnya mau ambil ban gratis aja tapi tidak seru juga kalau masuk wahana ombak tidak pakai ban. Kalau ada yang bawa ban gratisan, wahana ombaknya tidak bakal dinyalakan. Akhirnya kami memutuskan ambil ban double berbayar. Biaya sewa ban double itu 25k + jaminan sewa 50k yang akan dikembalikan saat berhasil mengembalikan ban dalam keadaan selamat. 

Brando Boomeranggo
Terkadang aku berpikir, kenapa tidak mengganti tangga dengan lift saja? Biar tidak capek. Untuk naik ke atas seluncuran, kami harus menaiki tangga yang cukup banyak. What a pain! Untungnya doi selalu bersikap gentleman padaku. Selama memegang ban, dia yang selalu membawa ban itu sendirian. Dia tidak membiarkanku membawa ban itu meskipun sudah kutawarkan diri berkali-kali. Senang sih baru kali ini punya doi sebaik itu.

Sampailah kami di puncak seluncurnya. Karena kami datang saat weekday, tidak banyak orang yang mengantri saat itu. Aku sangat-sangat deg-degan karena setelah sekian lama akhirnya aku main wahana yang menantang adrenalin. Ini pertama kalinya aku naik wahana ini jadi aku sama sekali tidak tahu seekstrim apa yang diceritakan di websitenya. Ketidak-tahuan itu membuatku sedikit takut. Tiba giliran kami untuk naik. Papan seluncurnya ini punya atap di atasnya jadi pas meluncur ke dalam, hawanya terasa hangat. Awalnya baik-baik saja...Sampai akhirnya aku melihat ujung terowongannya yang ternyata lebih rendah. Sedetik kemudian aku sadar wahana ini mirip salah satu wahana Trans Studio, Jelajah. Di ujungnya ada turunan tajam. Kami meluncur dari torowongan lalu terpental ke atas baru meluncur turun ke arah kolam. Brando Boomeranggo berhasil membuatku gemetar. Harusnya aku coba wahana lain yang lebih santai dulu baru naik wahana ini. 

Jolie Raft River
Wahana selanjutnya, Jolie Raft River. Salah satu wahana waterslide yang papan seluncurnya berwarna ungu-putih. Seperti biasa kami harus naik tangga lagi. Setibanya di lantai wahananya, tidak butuh waktu lama untuk kami bisa mencoba waterslide ini. Jolie Raft River tidak memiliki atap jadi kita bisa langsung melihat langit biru. Waterslidenya pun lebih santai, meski ditengah-tengahnya ada sedikit turunan. Kalau kuperhatikan ban kami jadi terasa lebih cepat dibanding saat kami di Brando Boomeranggo. Alhasil saat sampai di ujungnya kami sampai jatuh ke dalam air. 

Donte Wild River
Sambil menunggu South Beach diaktifkan, kami menghabiskan waktu di Donte Wild River. Di pinggir sungai banyak ditanam tanaman. Wahananya santai aja, yang kulakukan cuma duduk bersantai di atas ban dan menikmati aliran sungai. Doi lebih suka berenang dan mendorong ban ku agar jadi lebih cepat lajunya. Minusnya sungainya kotor dan banyak serangganya. Gimana tidak banyak, tumbuhannya aja sedekat itu dengan air. Aku bahkan berimajinasi di dalam sungai ini ada ulat. Aku pun tidak berani menceburkan diriku di dalam air. Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak suka waterbom dengan tema hutan seperti ini. Mungkin lebih bagus tepi sungainya ini ditambah dinding lukisan gitu dengan gambar gedung-gedung di Venesia. Lumayankan instagramable.

Jam 12.00. Terdengar suara melalui microphone kalau sebentar lagi wahana ombaknya akan dimulai. Kami langsung ke arah wahana South Beach. Meski sudah pernah ke Bugis Waterpark sebelumnya, dimana semua wahananya mirip banget tapi aku belum pernah mencoba wahana ombak sebelumnya. Saat itu di Bugis Waterpark wahana ombak itu termasuk wahana baru dan tidak kunjung dinyalakan sampai aku pulang.

Baru saja diumumkan, orang-orang sudah berbondong-bondong masuk ke dalam air. Kami juga ikut mendekat ke tali biru yang berada di tengah. Matahari semakin terik, kami sudah menunggu hampir 20 menit. Orang-orang sudah tidak sabar. Kulitku keburu gosong nihh. Selama menunggu tadi aku berpikir paranoid lagi apakah kami akan terombang ambing seperti berada di badai lautan. Aku bahkan berkali-kali meminta doi agar kita jangan terlalu dekat dengan garis biru. Dan yapss ekspektasiku yang terlalu tinggi berujung kekecewaan. Setelah 35 menit akhirnya petugasnya baru mau menyalakan wahananya.

Ternyata ombaknya tidak sebesar itu. Tapi cukup untuk berhave fun ria bersama. Doi tahu-tahu saja mencipratku dengan semburan air. Tidak mau kalah aku pun ikut mencipratkan air ke mukanya. Mungkin karena badanku terlalu condong ke samping, disaat ombak datang banku goyang dan akhirnya aku jatuh ke bawah. Aku panik. Ternyata meskipun belum melewati garis biru, lantai kolam sudah tidak bisa kupijak. Salahku harusnya aku mengecek dulu ketinggian kolam sebelum naik ke atas ban. Doi yang sudah tahu kalau aku tidak bisa berenang langsung sigap turun dari atas ban dan memegangiku. Meski panik aku masih ingat doi menarik tanganku ke atas permukaan. Ini baru pertama kali aku merasakan yang namanya tenggelam. Syukurlah saat tenggelam aku bisa cepat-cepat diselamatkan. Kalau doi tidak ada, aku bakal hopeless banget huhu. Di sekitarku memang banyak sekali orang, tapi belum tentu mereka tahu aku ternyata tidak bisa berenang. Saat aku sudah berhasil naik ke ban, doi sadar kacamataku hilang. Yeah shit! That was stupid of me. Aku lupa menjepit kacamataku di kerah baju supaya kejadian ini tidak terjadi. Doi lalu menyelam ke dalam lagi untuk mencari. Aku benar-benar tidak enak. Harusnya doi juga ikut menikmati wahana ini tapi dia malah sibuk mencarikanku kacamata. Mana masih banyak pula orang di dalam kolam.

Akhirnya wahana ombaknya sudah selesai. Orang-orang mulai jalan keluar dari kolam. Doi pun juga harus mengembalikan kacamata renang orang yang dia sempat pinjam sebelumnya untuk mencari kacamataku. Susah emang untuk mencari di dalam air yang keruh begini. Disaat orang lain pergi, doi masih berada di tengah kolam untuk menyelam. Petugas yang menyadarinya lalu bertanya ke doiku sedang mencari apa. Akhirnya salah satu petugasnya ikut turun menyelam mencari kacamata di area paling ujung sedangkan doiku mencari di sekitar garis biru. Aku sendiri cuma bisa membantu mencari di area yang masih bisa diinjak kakiku. Karena tidak kunjung ditemukan akhirnya aku bilang ke doi untuk menyudahinya saja, nanti bisa dibeli lagi. Meski keuanganku saat itu lagi kosong. Bahkan biaya masuk, makan, dan ban pun semua doi yang bayar. Aku tidak enak hati kalau doi tidak menikmati tempat ini juga. Akhirnya doi keluar dari kolam. Tidak lupa untuk berterima kasih ke petugas yang membantu kami. Sebagai ganti doi tidak mendapatkan kacamata minusku, dia menemukan kacamata renang orang lain yang cukup berguna juga nantinya.

Selanjutnya kami berencana untuk naik Bekti Adventure. Waterlide ini berwarna hijau tosca-kuning. Selama jalan ke wahana, doi berkali-kali merasa bersalah karena niatnya membawaku ke sini supaya aku bisa bersenang-senang.
"Apa kamu bahagia?"
"Apa kamu bersenang-senang?"
Tentu saja aku senang. Insiden itu cuma masalah kecil buatku. Tapi aku tanpa kacamata itu menyusahkan. Aku hanya bisa melihat dengan jelas 2 meter di depanku. Selama jalan akhirnya aku selalu digandeng oleh doi. Setelah sampai, kami sadar kalau ban yang digunakan ternyata lebih besar dari yang kami sewa. Doi lalu bertanya ke penjaganya apa kami bisa naik. Ternyata untuk naik ini minimal harus 3 orang. Padahal kelihatan seru. Kami lalu beralih ke wahana di sebelahnya.

Memo Racer
Selanjutnya adalah Memo Racer. Sebelum naik kami menitip ban di dekat pengambilan papan seluncurnya. Seluncurnya itu yang berwarna seperti pelangi. Wahananya tidak terlalu tinggi. Jadi saat naik kami tidak terlalu kewalahan. Sepertinya wahana ini sepi banget. Saat sampai cuma kami berdua (excl. penjaga) yang berada di lantai ini. Aku deg-degan banget. Doi sudah standby di seluncur di sampingku. Tak lama doi duluan yang meluncur turun ke bawah. Disusul aku yang tidak sabar mengakhiri ketakutanku. Dalam sekejap aku keluar dari lorong seluncurnya lalu meluncur ke bawah hingga berhenti setelah bertabrakan dengan air. Saat meluncur itu mataku auto tertutup saking takutnya melihat ke depan.

Cukup satu kali aja kami bermain di wahana sebelumnya. Kami pergi ke wahana yang tepat berada di depan Memo Racer, Kula Pool. Kula pool ini cuma kolam renang biasa dengan pool bar di tengah. Tidak jauh beda dengan kolam yang ada di Bugis Waterpark. Kolamnya terbagi jadi dua bagian, bagian dangkal di sebelah kiri dan dalam di sebelah kanan. Kami menghabiskan waktu dengan belajar berenang. Doi bilang aku ada bakat untuk berenang, hanya saja aku orang yang gampang panikan. Selain itu teknik berenangku itu banyak yang salah. Yah maklumlah aku belajar berenang itu secara otodidak. Meski bisa berenang hingga ke seberang, tapi aku tidak pernah praktek di kolam yang dalam. Jadi aku sama sekali tidak ada pengalaman berenang yang bener-bener "berenang". Doi dengan sabar mengajariku berenang berjam-jam. Aku benar-benar banyak belajar untuk menyempurnakan teknik berenangku, meski masih belum sempurna amat.

Aku senang banget bisa bersenang-senang hari ini bersama doi. Meski ada insiden juga yang membuatku rugi. Malah lebih rugi daripada harga tiket aslinya Jogjabay haha. Pulang dari Jogjabay kami singgah beli makanan dan snack di depan Jogjabay dan Stadion Maguwo.

Ini review ku mengenai JogjaBay Maguwoharjo. 
+ wahananya lumayan banyak dibanding Bugis Waterpark yang kudatangi sebelumnya.
+ Staffnya ramah.
+ Ada hairdryer di shower room.
+ Banyak stand makanan di depan Jogjabay
+ Banyak promo yang biasa diupload di akun ig officialnya.
+ Fasilitas lengkap cuman Mushollanya terletak di pojokan.
+ Bersih, tidak ada sampah.
+ Lifeguardnya selalu terlihat terus memantau. 
+ Variasi wahana juga beragam.

- Ada tangga yang tidak enak untuk dilewati. Udah hampir lapuk gitu.
- Bilik shower room yang kutempati bau pesing :(
- Air Donte Wild River keruh banget.
- Sistem peminjaman ban yang ribet.
- Ada beberapa wahana yang ditutup.
- Parkiran mobil ke tempat wahana jauh.

Sekian diary harian dan review mengenai Jogja Bay Maguwoharjo, Overall experience, senang bisa bermain wahana air lagi setelah kunjungan terakhir kali ke Bugis Waterpark yang sudah tidak bisa kuingat saking lamanya. 

Lokasi Jogjabay Waterpark



 

You Might Also Like

0 komentar

About RIYU

I'm Indriyuku. This blog is a place where I want to share all the things I love to you! I hope my blog can inspire your next destination!

Like me on Facebook