Jogja Bay Waterpark
Yep lokasi kosanku berdekatan dengan 2 tempat terkenal di Maguwoharjo :
Stadion Maguwoharjo dan Jogja Bay Waterpark. Well, lokasi pastinya rahasia.
Lokasi Jogja Bay ini terletak pas di sebelah utara Stadion Maguwoharjo.
Setelah satu setengah tahun tinggal di wilayah Maguwoharjo, ini baru pertama
kalinya kami pergi ke Jogja Bay. Selama ini ya cuma lihat dari luar begitu
saja. Kami sudah menduga kalau wisata waterpark gini HTMnya pasti mahal.
Untuk kami yang mahasiswa part-time bokek gini jadi malas pengen masuk.
Kenapa tiba-tiba pengen ke sana?
Jadi ceritanya malam sebelumnya aku lagi sibuk scroll-scroll tiktok.
Lewatlah di fypku orang yang lagi main di Jogja Bay dan vt itu menjelaskan
bulan ini lagi ada promo tiket harga 25k. Lumayankan. Langsung aku samperin
akun ig official Jogja Bay buat nyari-nyari info. Ternyata selama ini Jogja
Bay selalu menyediakan banyak banget promo. Sayang banget ya satu setengah
tahunku. Padahal lumayan bisa belajar renang sambil main.
Karena tiketnya terbatas aku langsung mengakses jogjabay.id. Untunglah kami
masih kebagian promonya. Jadi total kubayar untuk masuk berdua cuma 50k.
Jauh lebih murah dari harga aslinya yang sekitar 200k. Yeey
Keesokan harinya kami berangkat ke Jogja Bay. Meski jarak kosan ke Jogja Bay
dekat, kami memilih naik motor. Mager aja sih. Tiga menit doang kami sudah
sampai ke tempat parkirnya. Harga karcis cukup bayar 5000 dan kami boleh bayar saat
mau ambil motor nanti.
Sebelum masuk, kami harus cuci tangan dulu lalu scan Peduli Lindungi tepat
di depan gerbang Jogja Bay. Sudah lama sekali tidak ke wisata waterpark.
Terakhir kali tahun 2014 waktu aku masih tinggal di Makassar. Di sana ada
juga satu wisata Waterpark yang dari desain dan wahananya lumayan mirip,
Bugis Waterpark.
Kami
langsung ke area loketnya. Karena kami pesan di websitenya, kami hanya perlu
menyebutkan angka pesanannya. Tidak sampai semenit kami sudah bisa masuk ke
area dalam Jogja Bay. BTW sebelum masuk, tas kami sempat diperiksa apakah
kami bawa makanan atau tidak. Kalau ketahuan akan disita!
Saat kami turun, dibawah terlihat banyak loker-loker yang sudah disediakan.
Di tengah-tengahnya ada loket untuk sewa gazebo dan loker. Sewa gazebo
seharga 150k, sedangkan sewa loker 30k. Karena barang bawaan kami
sedikit cuma satu tas backpack saja, kami sepakat pesan satu loker. Lumayan
kan irit. Isi tas kami emang tidak terlalu banyak. Cuma pakaian-pakaian
ganti, hp, dan kantong kresek untuk pakaian basah.
Ziggy Giant Barrel
Wahana yang kulihat pertama kali Ziggy Giant Barrel dimana kami disiram oleh ember raksasa yang berisi air yang banyak. Karena malas menunggu, kami sudah puas
disiram sampai 2x sebelum lanjut ke permainan lain. Saking tidak sabarnya
pengen menaiki wahana seluncuran. Wahana selanjutnya yang kami naiki adalah
wahana yang papan seluncurannya berwarna merah-hitam, Brando Boomeranggo.
Katanya ini wahana yang paling ekstrim di sini. Oke markicobbb!
Sebelum naik kita harus punya ban pelampung dulu. Lokasi sewa ban tepat
di depan wahana Brando Boomeranggo. Ada dua tipe ban di sini. Ada yang
berbayar dan gratis. Bedanya? Yang berbayar, ban itu bisa dipakai di semua
jenis wahana. Jika ingin ke wahana ombak pengen pakai ban misalnya, kalian harus
menyewa ban ini. Kalau ban gratis, ban itu hanya boleh di satu wahana itu
saja dan tidak bisa dibawa ke wahana lain. Perbedaan bannya bisa
terlihat dari coraknya. Ban berbayar punya corak kapal hitam, sedangkan yang
gratis coraknya warna-warni. Sebenarnya mau ambil ban gratis aja tapi tidak
seru juga kalau masuk wahana ombak tidak pakai ban. Kalau ada yang bawa
ban gratisan, wahana ombaknya tidak bakal dinyalakan. Akhirnya kami
memutuskan ambil ban double berbayar. Biaya sewa ban double itu 25k +
jaminan sewa 50k yang akan dikembalikan saat berhasil mengembalikan ban
dalam keadaan selamat.
Brando Boomeranggo
Terkadang aku berpikir, kenapa tidak mengganti tangga dengan lift saja?
Biar tidak capek. Untuk naik ke atas seluncuran, kami harus menaiki tangga
yang cukup banyak. What a pain! Untungnya doi selalu bersikap gentleman
padaku. Selama memegang ban, dia yang selalu membawa ban itu sendirian. Dia
tidak membiarkanku membawa ban itu meskipun sudah kutawarkan diri
berkali-kali. Senang sih baru kali ini punya doi sebaik itu.
Sampailah kami
di puncak seluncurnya. Karena kami datang saat weekday, tidak banyak orang
yang mengantri saat itu. Aku sangat-sangat deg-degan karena setelah sekian
lama akhirnya aku main wahana yang menantang adrenalin. Ini pertama kalinya
aku naik wahana ini jadi aku sama sekali tidak tahu seekstrim apa yang
diceritakan di websitenya. Ketidak-tahuan itu membuatku sedikit takut. Tiba
giliran kami untuk naik. Papan seluncurnya ini punya atap di atasnya jadi
pas meluncur ke dalam, hawanya terasa hangat. Awalnya baik-baik
saja...Sampai akhirnya aku melihat ujung terowongannya yang ternyata lebih
rendah. Sedetik kemudian aku sadar wahana ini mirip salah satu wahana Trans
Studio, Jelajah. Di ujungnya ada turunan tajam. Kami
meluncur dari torowongan lalu terpental ke atas baru meluncur turun ke arah
kolam. Brando Boomeranggo berhasil membuatku gemetar. Harusnya aku coba
wahana lain yang lebih santai dulu baru naik wahana ini.
Jolie Raft River
Wahana selanjutnya, Jolie Raft River. Salah satu wahana waterslide yang
papan seluncurnya berwarna ungu-putih. Seperti biasa kami harus naik tangga
lagi. Setibanya di lantai wahananya, tidak butuh waktu lama untuk kami bisa
mencoba waterslide ini. Jolie Raft River tidak memiliki atap jadi kita bisa
langsung melihat langit biru. Waterslidenya pun lebih santai, meski
ditengah-tengahnya ada sedikit turunan. Kalau kuperhatikan ban kami jadi
terasa lebih cepat dibanding saat kami di Brando Boomeranggo. Alhasil saat
sampai di ujungnya kami sampai jatuh ke dalam air.
Donte Wild River
Sambil menunggu South Beach diaktifkan, kami menghabiskan waktu di Donte
Wild River. Di pinggir sungai banyak ditanam tanaman. Wahananya santai
aja, yang kulakukan cuma duduk bersantai di atas ban dan menikmati aliran
sungai. Doi lebih suka berenang dan mendorong ban ku agar jadi lebih cepat
lajunya. Minusnya sungainya kotor dan banyak serangganya. Gimana tidak
banyak, tumbuhannya aja sedekat itu dengan air. Aku bahkan berimajinasi di
dalam sungai ini ada ulat. Aku pun tidak berani menceburkan diriku di dalam
air. Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak suka waterbom dengan tema
hutan seperti ini. Mungkin lebih bagus tepi sungainya ini ditambah dinding
lukisan gitu dengan gambar gedung-gedung di Venesia. Lumayankan
instagramable.
Jam 12.00. Terdengar suara melalui microphone kalau sebentar lagi wahana
ombaknya akan dimulai. Kami langsung ke arah wahana South Beach. Meski sudah
pernah ke Bugis Waterpark sebelumnya, dimana semua wahananya mirip banget
tapi aku belum pernah mencoba wahana ombak sebelumnya. Saat itu di Bugis
Waterpark wahana ombak itu termasuk wahana baru dan tidak kunjung dinyalakan
sampai aku pulang.
Baru saja diumumkan, orang-orang sudah berbondong-bondong masuk ke dalam
air. Kami juga ikut mendekat ke tali biru yang berada di tengah. Matahari
semakin terik, kami sudah menunggu hampir 20 menit. Orang-orang sudah tidak
sabar. Kulitku keburu gosong nihh. Selama menunggu tadi aku berpikir
paranoid lagi apakah kami akan terombang ambing seperti berada di badai
lautan. Aku bahkan berkali-kali meminta doi agar kita jangan terlalu dekat
dengan garis biru. Dan yapss ekspektasiku yang terlalu tinggi berujung
kekecewaan. Setelah 35 menit akhirnya petugasnya baru mau menyalakan
wahananya.
Ternyata ombaknya tidak sebesar itu. Tapi cukup untuk
berhave fun ria bersama. Doi tahu-tahu saja mencipratku dengan semburan air.
Tidak mau kalah aku pun ikut mencipratkan air ke mukanya. Mungkin karena
badanku terlalu condong ke samping, disaat ombak datang banku goyang dan
akhirnya aku jatuh ke bawah. Aku panik. Ternyata meskipun belum melewati
garis biru, lantai kolam sudah tidak bisa kupijak. Salahku harusnya aku
mengecek dulu ketinggian kolam sebelum naik ke atas ban. Doi yang sudah tahu
kalau aku tidak bisa berenang langsung sigap turun dari atas ban dan
memegangiku. Meski panik aku masih ingat doi menarik tanganku ke atas
permukaan. Ini baru pertama kali aku merasakan yang namanya tenggelam.
Syukurlah saat tenggelam aku bisa cepat-cepat diselamatkan. Kalau doi tidak
ada, aku bakal hopeless banget huhu. Di sekitarku memang banyak sekali
orang, tapi belum tentu mereka tahu aku ternyata tidak bisa berenang. Saat
aku sudah berhasil naik ke ban, doi sadar kacamataku hilang. Yeah shit! That
was stupid of me. Aku lupa menjepit kacamataku di kerah baju supaya kejadian
ini tidak terjadi. Doi lalu menyelam ke dalam lagi untuk mencari. Aku
benar-benar tidak enak. Harusnya doi juga ikut menikmati wahana ini tapi dia
malah sibuk mencarikanku kacamata. Mana masih banyak pula orang di dalam
kolam.
Akhirnya wahana ombaknya sudah selesai. Orang-orang mulai
jalan keluar dari kolam. Doi pun juga harus mengembalikan kacamata renang
orang yang dia sempat pinjam sebelumnya untuk mencari kacamataku. Susah
emang untuk mencari di dalam air yang keruh begini. Disaat orang lain pergi,
doi masih berada di tengah kolam untuk menyelam. Petugas yang menyadarinya
lalu bertanya ke doiku sedang mencari apa. Akhirnya salah satu petugasnya
ikut turun menyelam mencari kacamata di area paling ujung sedangkan doiku
mencari di sekitar garis biru. Aku sendiri cuma bisa membantu mencari di
area yang masih bisa diinjak kakiku. Karena tidak kunjung ditemukan akhirnya
aku bilang ke doi untuk menyudahinya saja, nanti bisa dibeli lagi. Meski
keuanganku saat itu lagi kosong. Bahkan biaya masuk, makan, dan ban pun
semua doi yang bayar. Aku tidak enak hati kalau doi tidak menikmati tempat
ini juga. Akhirnya doi keluar dari kolam. Tidak lupa untuk berterima kasih
ke petugas yang membantu kami. Sebagai ganti doi tidak mendapatkan kacamata
minusku, dia menemukan kacamata renang orang lain yang cukup berguna juga
nantinya.
Selanjutnya kami berencana untuk naik Bekti Adventure. Waterlide ini
berwarna hijau tosca-kuning. Selama jalan ke wahana, doi berkali-kali merasa
bersalah karena niatnya membawaku ke sini supaya aku bisa
bersenang-senang.
"Apa kamu bahagia?"
"Apa kamu bersenang-senang?"
Tentu saja aku senang. Insiden itu cuma masalah kecil buatku. Tapi aku
tanpa kacamata itu menyusahkan. Aku hanya bisa melihat dengan jelas 2 meter
di depanku. Selama jalan akhirnya aku selalu digandeng oleh doi. Setelah
sampai, kami sadar kalau ban yang digunakan ternyata lebih besar dari yang
kami sewa. Doi lalu bertanya ke penjaganya apa kami bisa naik. Ternyata
untuk naik ini minimal harus 3 orang. Padahal kelihatan seru. Kami lalu
beralih ke wahana di sebelahnya.
Memo Racer
Selanjutnya adalah Memo Racer. Sebelum naik kami menitip ban di dekat
pengambilan papan seluncurnya. Seluncurnya itu yang berwarna seperti
pelangi. Wahananya tidak terlalu tinggi. Jadi saat naik kami tidak terlalu
kewalahan. Sepertinya wahana ini sepi banget. Saat sampai cuma kami berdua
(excl. penjaga) yang berada di lantai ini. Aku deg-degan banget. Doi sudah
standby di seluncur di sampingku. Tak lama doi duluan yang meluncur turun ke
bawah. Disusul aku yang tidak sabar mengakhiri ketakutanku. Dalam sekejap
aku keluar dari lorong seluncurnya lalu meluncur ke bawah hingga berhenti
setelah bertabrakan dengan air. Saat meluncur itu mataku auto tertutup
saking takutnya melihat ke depan.
Cukup satu kali aja kami bermain di wahana sebelumnya. Kami pergi ke wahana
yang tepat berada di depan Memo Racer, Kula Pool. Kula pool ini cuma kolam
renang biasa dengan pool bar di tengah. Tidak jauh beda dengan kolam yang
ada di Bugis Waterpark. Kolamnya terbagi jadi dua bagian, bagian dangkal di
sebelah kiri dan dalam di sebelah kanan. Kami menghabiskan waktu dengan
belajar berenang. Doi bilang aku ada bakat untuk berenang, hanya saja aku
orang yang gampang panikan. Selain itu teknik berenangku itu banyak yang
salah. Yah maklumlah aku belajar berenang itu secara otodidak. Meski bisa
berenang hingga ke seberang, tapi aku tidak pernah praktek di kolam yang
dalam. Jadi aku sama sekali tidak ada pengalaman berenang yang bener-bener
"berenang". Doi dengan sabar mengajariku berenang berjam-jam. Aku
benar-benar banyak belajar untuk menyempurnakan teknik berenangku, meski
masih belum sempurna amat.
Aku senang banget bisa bersenang-senang hari ini bersama doi. Meski ada
insiden juga yang membuatku rugi. Malah lebih rugi daripada harga tiket
aslinya Jogjabay haha. Pulang dari Jogjabay kami singgah beli makanan dan
snack di depan Jogjabay dan Stadion Maguwo.
Ini review ku mengenai JogjaBay Maguwoharjo.
+ wahananya lumayan banyak dibanding Bugis Waterpark yang kudatangi
sebelumnya.
+ Staffnya ramah.
+ Ada hairdryer di shower room.
+ Banyak stand makanan di depan Jogjabay
+ Banyak promo yang biasa diupload di akun ig officialnya.
+ Fasilitas lengkap cuman Mushollanya terletak di pojokan.
+ Bersih, tidak ada sampah.
+ Lifeguardnya selalu terlihat terus memantau.
+ Variasi wahana juga beragam.
- Ada tangga yang tidak enak untuk dilewati. Udah hampir lapuk gitu.
- Bilik shower room yang kutempati bau pesing :(
- Air Donte Wild River keruh banget.
- Sistem peminjaman ban yang ribet.
- Ada beberapa wahana yang ditutup.
- Parkiran mobil ke tempat wahana jauh.
Sekian diary harian dan review mengenai Jogja Bay Maguwoharjo, Overall
experience, senang bisa bermain wahana air lagi setelah kunjungan terakhir
kali ke Bugis Waterpark yang sudah tidak bisa kuingat saking
lamanya.
Lokasi Jogjabay Waterpark
