Banyak tempat wisata di Mangunan yang cukup direkomendasikan di sosmed. Having liimited times, I can't visit them all at once. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku memilih :
Seribu Batu Songgo Langit Imogiri.
Terletak di desa Mangunan, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sesuai namanya, Seribu Batu Songgo Langit artinya ribuan batu menyangga langit, wisata ini berada di daerah pegunungan dengan puing-puing batu besar dari jaman dulu. Meskipun tergolong tempat wisata yang baru, fasilitasnya tergolong lengkap kok.
Apa yang membedakan tempat wisata ini dengan wisata Mangunan yang lain?
Actually, I'm getting kinda bored dengan wisata yang aktivitasnya cuma foto saja. I need something adventurous. It was my first time exploring this place and I love it. Karena banyak aktivitas yang kulakukan selama berwisata di sini.
Aku dan doi datang saat weekdays, terlebih dengan keadaan hujan baru saja berhenti. Udara pegunungannya benar-benar dingin. Untungnya aku masih tahan udara dingin dengan jeans shortpant yang kukenakan. Perjalanan ke sini tidak terlalu sulit. Jalannya mulus dan tidak terlalu menanjak. Buktinya motor doi yang pistonnya belum sempat diperbaiki pun masih bisa naik. Waktu perjalanan cukup memakan waktu sekitar 45 menit ditemani perumahan warga desa dan view pegunungan yang indah. Kami masuk cuma membeli tiket masuk seharga 5k dan parkir motor 2k saja. Murah banget kan? Banyak warung-warung yang buka di sekitaran tempat parkir. Sayangnya cuma kami saja yang saat itu motornya terparkir. Bener-bener sepi banget. Tempat parkirnya masih berbatu. Tidak nyaman jika ada yang pakai heels atau wedges. Kalau ke sini sebaiknya pakai sepatu flat saja.
Rencananya ingin naik wahana flying fox, tapi petugas penjaganya saja tidak ada. Mungkin karena habis hujan kali ya. Kami lanjut turun ke jembatan berkayu yang diberi nama Jembatan Jomblo. Salah satu spot foto yang katanya cukup terkenal. Meski namanya Jembatan Jomblo, jembatan ini katanya akan terlihat romantis di malam hari.
Di ujung jembatan ada spot foto ikonik dari wisata ini, yaitu rumah seribu kayu. Rumahnya terbuat dari ranting-ranting kayu yang dibentuk menjadi gubuk-gubuk kecil. Spot foto ini juga yang menggodaku untuk datang kemari. Lucky us, tidak ada seorang pun yang mengantri saat sedang berfoto. Kalau seandainya saja dalam keadaan rame, kami pasti harus ngantri foto dulu. Itu membuatku agak malu haha. Aku bakalan canggung kalau difoto depan banyak orang.
Sebelah kiri dari rumah hobit, ada sebuah panggung dengan deretan kursi kayu di depannya. Waw...cocok juga buat diadain mini concert di sini. Apa udah pernah? Dunno.
|
|
| Bagaimana bisa batu sebesar ini ada di pegunungan? |