Hidden Gem Gunung Kidul : Pantai Srakung

November 29, 2021

Berawal dari postingan instagram salah satu akun yang biasa memposting tempat-tempat wisata gitu, aku jadi tertarik untuk pergi ke tempat yang dimaksud dalam postingan itu. 

Yup, Pantai Srakung.

Kenapa Pantai Srakung? Karena aku suka dengan tempat sepi yang tidak terlalu banyak pengunjung. 

Tidak ada persiapan khusus, tiba-tiba saja nyeletuk pengen ke pantai Srakung. Sekitar jam 6 pagi aku dan doi bersiap-siap pergi ke pantai Srakung. Dengan kondisi aku waktu itu suka begadang main game, pergilah kami berangkat. Dari Maguwo - Jogja kami ke Gunung Kidul, lalu tiba di Wonosari. Nah dari Wonosari kami melewati jalur lintas selatan. Pemandangannya cukup unik karena baru kali ini lihat tebing-tebing yang telah dibelah alat berat. 

src : instagram.com/anggarawepe

Sorry, tidak punya foto asli, soalnya filenya dalam bentuk video (malas upload-_-).

Setelah melewati jalan mulus nan panjang, kami memasuki area perumahan warga. Kata doi "kok kita dilihatin terus ya"
Mungkin karena kita pendatang kali ya. Soalnya ini memang masih hidden gem banget.

Melewati perumahan warga, jalannya jadi menyempit. Di sini agak susah kalau ada 2 mobil berpapasan. Tak lama kami melihat area berbatu paving. Sepertinya ini area parkirnya tapi tidak ada penjaga parkirnya. Jangan lupa motornya dikunci.

Kami lalu jalan menuju bibir pantai. Tidak jauh kok, sayangnya kalau mau turun ke pantainya agak susah karena masih menggunakan batu-batu besar sebagai pijakannya. Sampai deh kita ke bibir pantai!

maaf agak gelap hehe

Kesan pertamaku? Serasa pantai pribadi! Hanya ada 1 warga sekitar yang bawa bakul dan sabit gitu. Tapi cuma sebentar, orang itu sudah pergi. Kami jadi bisa memaksimalkan kesan pantai pribadi kami. Aku sibuk bermain air, sedangkan doi sibuk berburu kerang-kerang yang bertebaran di pantai. Asli ini pertama kalinya dalam hidupku aku mengunjungi pantai sesepi dan sealami ini. Pantainya pun putih bersih dan bebas sampah. Sayang juga pantainya tidak terlalu luas. Kami sangat menikmati cuaca, air laut, udara, dan hutan di sekelilingnya. Sayang banget kami tidak membawa perbekalan satu pun. Kalau ada, kita bisa piknik di sini. Tidak terasa kami sudah 3 jam berada di pantai ini. 



Tiba-tiba muncul seorang bapak-bapak yang membawa sabit di tangannya. Anehnya dia tidak bawa bakul seperti warga lain. Awalnya aku tidak ngeh, sampai doi menyapa bapak itu. Tapi bapak itu sama sekali tidak menjawab, malah bergumam sendiri. Dan aku juga sadar tatapan matanya aneh. Doi pun juga sadar. Kayak mata orang yang tidak waras gitu (maafin ya pak kalau kita jadi ngejudge). Bapak itu hanya celingak-celinguk dan berjalan di sekitar kami. Tidak lama ada 2 wanita yang tidak jelas ngomong apaan. Mereka berdua kami sapa juga tapi tidak menjawab. 

Doi lalu menyuruhku membereskan semua barang bawaan kami. Untungnya kita tidak cuma bawa tas sih jadi bisa langsung cabut. Kami berlari meninggalkan pantai itu. Aku deg-degan parah. Kakiku sebenarnya jadi lemas, tapi kupaksa untuk bergerak. Aku sampai menenteng sepatuku karena susah melewati jalan bebatuan itu. Aku tidak berani menatap ke belakang. Doi menyuruhku lebih cepat lagi karena dia bilang bapak itu mengikuti kami dari belakang. Akhirnya aku memberanikan diri melihat ke belakang, benar saja bapak itu sudah berada di ujung jalan batu. Tapi bapak itu berhenti lalu berbalik badan. Apa dia sudah menyerah? Gitu pikirku. Oh ternyata ada seorang bapak-bapak lain yang datang. Kali ini normal, si bapak ini bawa sabit dan bakul. Disapa pun si bapak normal ini menyapa kami balik. Tentu saja sorot matanya pun normal. Beda dengan bapak yang cuma bawa sabit itu tadi. 

Lega banget rasanya. Jantungku masih berdegup kencang. Kami tidak berani balik lagi ke pantai itu meskipun si bapak normal ada di sana. Aku berbalik lagi ke arah pantai, dan si bapak dan kedua ibu-ibu tadi duduk di tempat yang kami duduki tadi. Kami balik ke tempat parkir dan memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, doi bilang dia sudah melihat si bapak dan ibu-ibu itu sewaktu kami melewati perumahan warga. Jadi mereka jalan kaki mengikuti kami gitu? Seramm.

Sekian pengalaman liburan kami di pantai Srakung. Ini reviewku mengenai pantai Srakung :

Pros :
  • Sama sekali tidak bayar apa-apa untuk ke sana (kecuali bensin).
  • Pantai putih bersih.
  • Sepi. Serasa pantai pribadi.
  • Pemandangan indah.
Min :
  • Tidak ada toilet.
  • Tidak ada warung.
  • Pantainya agak sempit.
  • Jalan menuju ke pantai juga sempit.





You Might Also Like

0 komentar

About RIYU

I'm Indriyuku. This blog is a place where I want to share all the things I love to you! I hope my blog can inspire your next destination!

Like me on Facebook